Pariwisata Alam di Tahura

-NoerI. PENDAHULUAN

Berdasarkan UU. No. 5 Tahun 1990, Taman Hutan (Tahura) adalah kawasan pelestarian alam yang ditetapkan untuk tujuan koleksi tumbuh-tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau bukan alami, dari jenis asli atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penunjang budidaya tumbuhan dan/atau satwa, budaya, pariwisata, dan rekreasi.

Dalam kaitan pemanfaatan Tahura untuk pariwisata, pada dewasa ini kebutuhan masyarakat untuk melakukan rekreasi dan wisata di lokasi yang masih alami cenderung terus meningkat. Bagi sektor kehutanan, fenomena ini merupakan peluang dalam pengembangan wisata alam sebagai salah satu jasa lingkungan yang dihasilkan oleh hutan. Hal ini mengingat wisata alam dapat diharapkan menjadi katalisator untuk pengembangan aspek pembangunan kehutanan lainnya secara bertahap.

Sejalan dengan perkembangan kebutuhan pariwisata alam, maka Tahura Sulteng sebagai salah satu Kawasan Pelestarian Alam  (KPA) di Provinsi Sulawesi Tengah, yang memiliki potensi keindahan alam, flora dan fauna serta keunikan budaya lokal sangat potensial untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata alam. Dalam upaya mengaktualkan potensi ini, maka pemanfaatan wisata alam di Tahura Sulteng perlu dilakukan dengan melibatkan pihak lain (seperti swasta). kemudian, pelibatan ini swasta ini akan dapat memberikan manfaat bilamana mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan menumbuhkan kesadaran para pihak untuk menjaga Tahura. Oleh karena itu tulisan ini dimaksudkan untuk memberi gambaran terkait implementasi pengusahaan pariwisata alam di Tahura Sulteng dari aspek hukum, sosial dan lingkungan.

II. Tinjauan Hukum

TAHURA adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan/atau bukan jenis asli, yang tidak invasif dan dimanfaatkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata, dan rekreasi (Pasal 1 No. 28 Th. 2011). Kawasan TAHURA dikelola dengan sistem blok pengelolaan, yang meliputi: blok perlindungan, blok pemanfaatan dan blok lainnya (Pasal 19 No. 28 Tahun 2011). Yang dimaksud dengan blok lainnya antara lain: blok perlindungan bahari, blok koleksi tumbuhan dan/atau satwa, blok tradisional, blok rehabilitasi, blok religi, budaya, dan sejarah, dan blok khusus (Penjelasan Pasal 19 PP. No. 28 Th. 2011).

Pemanfaatan Tahura dapat dilakukan dengan tidak mengubah fungsi kawasan (Pasal 31 Ayat 2 UU. No. 5 Th. 1990), dan merusak bentang alam (Pasal 32 No. 28 Th. 2011). Tujuan pemanfaatan hutan adalah untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya (Pasal 23 UU. No. 41 Th. 1999).

Tahura diantaranya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam (Pasal 31 Ayat 1 UU. No. 5 Th. 1990; Pasal 36 No. 28 Th. 2011). Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas blok pemanfaatan Tahura dengan mengikutsertakan rakyat (Pasal 34 Ayat 3 UU. No. 5 Th. 1990).

Pengusahaan pariwisata alam meliputi: usaha penyediaan jasa wisata alam; dan usaha penyediaan sarana wisata alam. Usaha penyediaan jasa wisata alam dapat meliputi: jasa informasi pariwisata; jasa pramuwisata; jasa transportasi; jasa perjalanan wisata; dan jasa makanan dan minuman. Sedangkan usaha penyediaan sarana wisata alam dapat meliputi: wisata tirta; akomodasi; dan sarana wisata petualangan (Pasal 7 No. 36 Th. 2010).

Luas areal yang diizinkan untuk dibangun sarana wisata alam paling banyak 10% dari luas areal yang ditetapkan dalam izin. Kemudian, sarana wisata alam yang di bangun harus semi permanen dan bentuknya disesuaikan dengan arsitektur budaya setempat (Pasal 18 No. 36 Th. 2010).

Pemberian perizinan usaha pemanfaatan pada Tahura Skala Propinsi diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi (Lampiran AA Butir 30 PP. No. 38 Th. 2007), yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan kewenangannya (Pasal 11 – 17 No. 36 Th. 2010).

III. Gambaran Tahura Sulteng

TAHURA Sulawesi Tengah memiliki luasnya sekitar 7.128 Ha, terletak di lintas antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi. TAHURA berada pada kondisi topografi datar, berbukit dan bergunung, dengan kemiringan 8 – 60 persen, dan  ketinggian 100 –  1.500 dari permukaan laut ini.

Beberapa potensi flora yang terdapat di TAHURA Sulawesi Tengah diantaranya cendana (Santalum album), angsana (Pterocarpusindicus ), nyatoh (Palaquium sp) dan kayu hitam (Diospyros celebica). Dengan  potensi fauna diantaranya burung tekukur hutan (Geopelia sp., Streptopelis sp), burung kakak tua jambul kuning (Cacatua sulphurea) dan biawak (Varanus salvator).

Kondisi TAHURA saat ini memprihatinkan, beberapa gangguan mengancam keberadaan kawasan ini, mulai dari adanya pencurian hasil hutan kayu,  perambahan berupa kebun-kebun masyarakat, hingga keberadaan pemukiman masyarakat. Di dalam Kawasan Tahura, kurang lebih dalam lima tahun terakhir ini juga  terdapat aktifitas Penambangan Tanpa Ijin (PETI) berupa emas (logam murni) yang dilakukan oleh masyarakat..

Sebaliknya, kawasan yang menyimpan potensi keindahan panorama alam serta flora dan fauna ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal untuk aktifitas wisata alam, dan bahkan hingga kini belum ada pemegang ijin pengusahaan pariwisata alam di kawasan ini.

IV. Pembahasan

Selama ini, pemanfaatan wisata alam di Tahura Sulteng dilakukan secara swakelola, terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengelolaan dengan cara swakelola ini, seperti keterbatasan SDM, akomodasi, manajemen dan pemasaran, serta keamanan.

Objek wisata alam adalah jasa yang dikelola oleh manusia agar dapat dinikmati orang lain. Oleh karena itu obyek wisata harus dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat memuaskan pengunjung. Dengan demikian, keterbatasan SDM menjadi amat menentukan dalam menyiapkan obyek wisata yang ada, baik dari aspek jumlah, kualitas maupun  kemampuannya. Upaya yang sungguh-sungguh untuk memasarkan obyek-obyek wisata sangat penting dilakukan secara berkesinambungan. Beberapa promosi pariwisata melalui internet atau media komunikasi lain (surat kabar, brosur, radio maupun televisi) perlu dimanfaatkan secara seksama dan terpadu. Masalah keamanan pengunjung di lokasi wisata, baik karena kemungkinan terjadinya bencana alam, keadaan fisik lapangan, keamanan di perjalanan, resiko pencurian. Beberapa masalah ini perlu dipikirkan untuk diantisipasi secara serius.

Sebagai upaya dalam mengatasi kendala di atas, maka pemanfaatan wisata alam di Tahura Sulteng perlu dilakukan dengan melibatkan pihak  swasta. Pelibatan pihak swasta dalam pengusahaan pariwisata alam dilakukan dengan memperhatikan aspek hukum, aspek sosial dan aspek lingkungan.

Aspek hukum. Pemanfaatan pariwisata alam harus dilakukan dengan mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dimana pemanfaatan bertujuan untuk kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya. Oleh karena itu, pemanfaatan Tahura dilakukan dengan tidak mengubah fungsi kawasan, dan merusak bentang alam. Dilakukan di blok pemanfaatan Tahura dengan mengikutsertakan masyaakat. Luas areal yang diizinkan untuk dibangun sarana wisata alam paling banyak 10% dari luas areal yang ditetapkan dalam izin. Kemudian, sarana wisata alam yang di bangun harus semi permanen dan bentuknya disesuaikan dengan arsitektur budaya setempat.

Aspek sosial. Pemanfaatan Tahura harus memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pengusahaan pariwisata dilakukan dengan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi masyarakat setempat. Pengembanganya harus didasarkan atas persetujuan masyarakat setempat melalui musyawarah. Memberdayakan dan mengoptimalkan partisipasi serta sekaligus memberikan kontribusi secara kontinyu terhadap masyarakat setempat.

Aspek lingkungan. Pemanfaatan pariwisata alam harus dilakukan dengan kepedulian, komitmen dan tanggung jawab terhadap konservasi alam. Dimana ada edukasi dengan proses pembelajaran dialogis antara masyarakat dengan wisatawan. Kemudian, pemasaran dan promosi dilakukan  dengan jujur dan akurat sehingga sesuai dengan harapan.

V. Penutup

Dalam penyelenggaraan pariwisata alam di TAHURA, Pemerintah Daerah dapat memberikan perijinan kepada swasta untuk melaksanakan pengusahaan pariwisata alam, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat yang optimal bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya. Pelibatan pihak swasta dalam pengusahaan pariwisata alam di TAHURA harus dilakukan dengan memenuhi aspek hukum, aspek sosial, dan aspek lingkungan.

Pemberian perijinan pengusahaan pariwisata alam di Kawasan TAHURA kepada pihak swasta harus dilakukan dilakukan dengan tidak mengubah fungsi kawasan, dan tidak merusak bentang alam, serta dengan kepedulian, komitmen dan tanggung jawab terhadap konservasi alam.

Dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat setempat, dalam arti memberdayakan dan mengoptimalkan partisipasi serta sekaligus memberikan kontribusi secara kontinyu terhadap masyarakat setempat. Dilakukan di blok pemanfaatan TAHURA, dengan luas areal yang diizinkan untuk dibangun sarana wisata alam paling banyak 10% dari luas areal yang ditetapkan dalam izin. Kemudian, sarana wisata alam yang di bangun harus semi permanen dan bentuknya disesuaikan dengan arsitektur budaya setempat.

Dalam menumbuhkan kesadaran para pihak untuk menjaga dan meningkatkan fungsi TAHURA, maka pemilihan jenis jasa wisata alam harus dilakukan secara bijaksana, agar dapat memberikan edukasi dan tidak menjadi preseden buruk ke depannya.

Daftar Pustaka

  1. Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya;
  2. Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
  3. Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
  4. Nomor 36 Tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam;
  5. Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

Oleh: Nurudin, Sp., M.Si., (Kepala Seksi Konservasi Aalam – Dishut Sulteng).

3 komentar

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: